Kamis, 14 Juni 2012

sistaksis 1


Afiksasi : pembentukan verba
Verba berprefiks ber-
Bentuk dasar dalam pembentukan verba dengan prefiks ber- dapat berupa
1.      Morfem dasar terikat, misal bertempur, berkelahi dan berjuang.
Bentuk dasar yang berupa morfem dasar terikat tempur, kelahi dan juang.
2.      Morfem dasar bebas, seperti terdapat pada kata berladang, ternak dan kerja.
3.      Bentuk turunan berprefik, seperti terdapat pada kata berpakaian ( bentuk dasarnya pakaian )
Contoh: pakai+an
             Ber+pakai+an = berpakaian
Disini prefiks ber- diimbuhkan pada dasar terlebih dahulu sudah diberi afiks lain.     
        4.   bentuk turunan dari reduplikasi, seperti terdapat pada kata berlari-lari ( bentuk dasar lari-lari )
5.    bentuk turunan hasil komposisi, seperti terdapat pada kata berjual beli ( bentuk dasar jual beli ).
Makna gramatikal verba berprefiks  ber – ‘memiliki, memunyai ‘
1.      Apabila bentuk dasarnya memunyai komponen makna ( + benda ),( + umum ),( + milik ), dan atau ( + bagian ).
 Contoh : berayah, memunyai ayah
               Bermesin, memunyai mesin
2.      Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘ memakai ‘ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + pakaian ) atau ( perhiasan )
Contoh : berkebaya, memakai kebaya
              Berjilbab, memakai jilbab
3.      Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengendarai, menumpang’,atau naik.apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + kendaraan )
Contoh : bersepeda, mengendarai sepeda
              Berkuda, mengendarai kuda
Bentuk seperti berbemo, berbus dan berangkot secara aktual memang belum lazim, tetapi secara gramatikal bentuk tersebut diterima.   
4.      Verba berprefiks ber- memiliki gramatikal ‘berisi atau mengandung’.apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + benda ),( + dalaman ), atau ( + kandungan ).
Contoh : beracun, mengandung racun.
5.      Verba berprefiks bermakna ‘ mengeluarkan’.Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + benda ),( +hasil ),(+ keluar )
Contoh : bertelur, mengeluarkan telur
              Berdarah, mengeluarkan darah
6.      Verba berprefiks ber- bermakna ‘mengusahakan’ atau ‘mengupayakan’. Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ bidang usaha ).
Contoh : berladang, memgusahakan ladang.
              Bersawah, menguahakan sawah.
7.       Verba berprefiks ber- bermakna gramatikal ‘melakukan kegiatan’. Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + benda ),( + kegiatan )
Contoh : berdebat, melakukan debat.
              Bersenam, melakukan senam.
8.      Verba berprefiks ber- bermakna gramatikal ‘mengalami’ atau ‘berada dalam keadaan’.
Contoh : bersenang, mengalami senang.
              Berduka, mengalami duka.
9.      Verba berprefiks ber- bermakna gramatikal ‘menyebut’ atau’menyapa’. Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +kerabat ) dan ( + sapaan ).
Contoh : berabang, memanggil abang.
              Berkakak, menyebut kakak.
10.  Verba berprefiks ber- bermakna gramatikal ‘kumpulan’ atau ‘kelompok’.
Contoh : berdua, kumpulan dari dua orang.
              Bertiga, kumpulan dari tiga orang.
Verba berklofiks dan berkonfiks ber-an
Ø  Proses verba berkonfiks ( ber + muncul + an = bermunculan )
Ø  Proses verba berklofiks ( pakai + an = pakaian.ber + pakaian = berpakaian )
a.      Verba berkonflik ber-an bermakna gramatikal ‘banyak serta tidak teratur’.
Contoh : berlarian, banyak yang berlari dan tidak teratur.
  Bermunculan, banyak yang muncul dan tidak teratur.
b.      Verba berkonflik ber-an bermakna gramatikal  ‘saling atau berbalasan’.
Contoh : bermusuhan, saling memusuhi.
               Bertangisan, saling menangis.
c.       Verba berkonflik ber-an bermakna gramatikal ‘saling berada di’
Contoh : bersebelahan,saling berada di sebelah.
               Bersebrangan, saling berada diseberang.
·         Bentuk ber-an pada sebuah verba dapat berupa konfik mungkin juga klofik.
·         Hingga saat ini verba berkonfiks ber-an jumlahnya tidak banyak.
·         Ada sejumlah verba ber-an yang didalamnya peraturan ( terutama dalam ragam non baku )ditinggalkan prefix bernya, antara lain ( ber ) pelukan dan ( ber ) tabrakan. Kata-kata tersebut hanya dipakai ciuman, pelukan dan tabrakan ( artinya saling ).
d.      Verba berklofiks ber-kan makna gramatikal prefix ber- seperti sudah dijelaskan terlebih dahulu. Sedangkan makna gramatikal sufiks –kan adalah ‘akan’.
Contoh : bersenjatakan, menggunakan senjata akan ( bamboo runcing ).
               Berisikan, memunyai isi akan ( cair ). Perlu dicatat kata ‘bermandikan’ berada karena kata bermandi tidak ada.( ber+mandi cahaya).
e.      Verba bersufiks –kan digunakan dalam kalimat.
1)      Kalimat imperatif ( lemparkan bola itu kesini )
2)      Kalimat pasif ( rumah itu baru kami dirikan )
3)      Keterangan tambahan pada S atau O ( kami tinggal di daerah yang sudah mereka amankan)
Catatan: hanya memberikan tambahan ( kan )
f.        Verba bersufiks  -kan bermakna gramatikal ‘jadikan’.
Contoh : tenangkan artinya jadikan tenang.
               Putuskan artinya jadikan putus.
g.      Verba bersufiks  -kan bermakna gramatikal ‘jadikan berada di’
Contoh : pinggirkan artinya jadikan berada berada dipinggir.
               Tepikan artinya jadikan berada di tepi.
h.      Verba bersufiks –kan bermakna gramatikal ‘lakukan akan’.
Contoh : lemparkan artinya lakukan lempar akan.
               Hindarkan artinya lakukan hinder akan.
i.        Verba bersufiks –kan bermakna gramatikal ‘bawa masuk ke’
Contoh : asramakan artinya bawa masuk ke asramah.
               Gudangkan artinya bawa masuk ke gudang.
Verba bersufiks  -i  digunakan dalam :
1)      Kalimat imperatif ( Tanya )contoh : tolong gulai the ini.
2)      Kalimat pasif. Contoh : kemarin dia sudah saya hubungi.
3)      Keterangan tambahan. Contoh : desa yang akan kami kunjungi berada dibalik bukit.
j.        Verba bersufiks  -i  bermakna gramatikal ‘berulang kali’.
Contoh : pukuli artinya berulang kali dipukul.
               Lempari artinya berulang kali dilempar.
k.       Verba bersufiks  -I  bermakna gramatikal ‘tempat’.
Contoh : duduki artinya duduk di…
               Datangi artinya dating di…
l.        Verba bersufiks  -I  bermakna gramatikal ‘merasa sesuatu pada’.
Contoh : kasihi artinya merasa kasih pada.
               Takuti artinya merasa takut pada.
m.    Verba bersufiks  -i  bermakna gramatikal ‘memberi atau membubuhi’.
Contoh : garami artinya memmberi garam.
               Airi artinya member air.
n.      Verba bersufiks  -i  bermakna gramatikal ‘jadikan atau sebabkan’.
Contoh : lengkapi artinya jadikan lengkap.
               Cukupi artinya jadikan cukup.
o.      Verba bersufiks  -i  bermakna gramatikal ‘lakukan pada’
p.      Contoh : tulisi artinya lakukan tulis pada.
               Diami artinya lakukan diam pada.
Catatan :
1)      Bentuk sufiks  -i  tidak dapat diimbuhkan pada bentuk dasar yang diakhiri dengan vocal i atau diftong –ai.
2)      Ada perbedaan verba bentuk  -kan dan verba bentuk  -i.

q.      Verba b ersufiks  -kan atau  -i  bermakna idiomatical.
Contoh : mengutarakan artinya menyatakan.
             Mangatasi artinya menyelesaikan.
r.       Berkenaan dengan dapat tidaknya bersufiks  -i  dan sufiks  -kan akar dalam bahasa indonesi dapat dikelompokan atas :
a)      Akar yang dapat diimbuhi sufiks  -kan dan  -i.
- tuliskan ( kan )                            - tulisi (i )
- masukan             ( kan )                          - masuki  ( i )
b)      Akar yang hanya dapat diberi imbihan  -kan tetapi tidak dapat diberi imbuhan  -i.
-  anjurkan ( kan )                         - anjur (i ) tidak bias
- lombakan ( kan )                         - lomba ( i ) tidak bisa
c)      Akar yang hanya dapat diberi imbihan  -i  tetapi tidak dapat diberi imbuhan  -kan.
- taati ( i )                                      - taat ( kan ) tidak bias
- patuhi (i )                                                - patuh ( kan ) tidak bisa
Verba berprefiks per-
Veba berprefiks per- dapatdigunakan dalam :
1)      Kalimat imperatif. Contoh : persingkat bicaramu.
2)      Kalimat pasif. Contoh : penjagaan akan kami perketat nanti malam.
s.       Verba berprefiks per- bermakna gramatikal ‘jadikan lebih’
Contoh : pertinggi artinya jadikan lebih tinggi.
               Perlebar artinya jadikan lebih lebar.
t.        Verba berprefiks per- bermakna gramatikal ‘anggap sebagai atau jadikan’
Contoh : perbudak artinya anggap sebagai budak.
               Peristri artinya jadikan istri.
u.      Verba berprefiks per- bermakna gramatikal ‘bagi’.
Contoh : perdua artinya jadi dua.
               Perlima artinya jadi lima.
Catatan :disamping bermakna diatas prefiks per- dapat juga berarti ‘tiap-tiap atau mulai’
Seperti : perbulan artinya tiap-tiap bulan.
Verba berklofiks per – kan
 Dapat digunakan dalam :
1)      Kalimat imperatif. Contoh : persiapkan dulu bahan-bahannya.
2)      Kalimat pasif. Contoh : anak itu akan kita pertemukan dengan orang tuanya.
3)      Keterangan tambahan. Contoh : tariaan yang sudah mereka pertunjukan akan diulang-ulangi.
A.      Verba berklofiks per – kan  bermakna ‘jadikan bahan per-an’.
Contoh : perdebatkan artinya jadikan bahan perdebatan.
              Pertanyakan artinya jadikan bahan pertanyaan.
B.      Verba berklofiks per – kan  bermakna ‘lakukan supaya’.
Contoh : persamakan artinya lakukan supaya sama.
              Pertegaskan artinya lakukan supaya sama.
C.      Verba berklofiks per – kan  bermakna ‘jadikan me_’.
Contoh : perdengarkan artinya jadikan ( orang lain ) mendengarkan.
  Perhatikan artinya jadikan ( orang lain ) memperhatikan.
Afiksasi : pembentukan kata benda ( nomina )
1)      Nomina berprefiks ke- sejauh data yang ada hanya ada tiga buah kata, yaitu:
Ke + tua  = ketua, makna yang dituai.
Ke + kasih = kekasih, makna yang dikasihi.
Ke + hendak = kehendak, makna yang dikehendaki.
2)      Nomina berkonfiks ke – an bermakna ‘hal atau wilayah’.
Ada dua macam proses pembentukan nomina dengan konfiks ke – an.
Pertama yang dibentuk lansung dari bentuk dasar, baik dari akar tunggal maupun majemuk seperti pada kata kehutanan dan keolahragaan. Kedua dibentuk dari akar tetapi melalui verba/ yang dibentuk dari akar tersebut.seperti kata keberaniaan dan kata kesedihan.
Contoh : kehutanan makna hal hutan.
              Keolahragaan makna hal olah raga.
              Kelurahan makna wilayah lurah.
3)      Nomina berprefiks pe- . ada dua pembentukan nomina dengan prefiks pe-.
                                I.            Yang mengikuti kaidah persenggauan. Prefiks pe- dapat dibentuk pe – pem – pen – peng dan – peny. Bentuk / alomorf pe – digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem r, I, w, y, m, n, ny, dan ng.
Contoh : perawat, perakit, perawaris, penanti dst.
                              II.            Yang tidak mengikuti kaidah persenggauan. Nomina berprefiks pe- melalui proses analogi. Contoh : pe + tinju = peninju ( benar )
  Pe + tinju = petinju ( benar )
4)      Nomina berkonfliks pe – an. Konfiks pe – an dalam pembentukan nomina memiliki enam alomorf, yaitu pe – an, pem – an, pen – an, peny – an, peng – an dan penge – an.
Contoh :- pe – rawat – an = perawatan                                 - pe – kirim – an = pengiriman
              -Pe – bina – an = pembinaan                                    - pe – cat – an = pengecatan
              -Pe – dengar – an = pendengaran
5)      Nomina berprefik per – an
·         Perdagangan ( dari verba berdagang )
·         Pekerjaan ( dari verba berkerja )
·         Perkaretan ( dari bentuk dasar karet )
·         Perburuhan ( dari bentuk dasar buruh )
Makna
1.      Hal ber – ( dasar )
– pergerakan bermakna hal bergerak
 – perselingkuhan bermakna hal berselingkuh
2.      Hal tentang / masalah ( dasar )
 – perekonomian artinya hal ekonomi
– perkreditan artinya hal kredit
3.      Daerah, wilayah, atau tempat
 – pegunungan artinya daerah gunung
 – pedalaman artinya daerah dalam
 –pertokoan artinya daerah toko
Pe – an                                          per – an
 – penyatuan                                 - persatuan
 – penemuan                                 - pertemuan
Nomina berprefiks – an me – ( dasar )
Contoh : tulisan, hasil dari menulis
              Masakan, hasil dari memasak
1.      Nomina bersufiks – an berarti ‘yang di’
Contoh : makanan, berarti yang dimakan
               Bacaan, berarti yang dibaca
2.      Nomina bersufiks – an berarti ‘alat untuk’.
Contoh : saringan,berarti alat untuk menyaring
               Ayakan, berarti alat untuk mengayak
3.      Nomina berprefiks – an berarti ‘ tempat’.
Contoh : kubangan, berarti tempat berkubang
               Pangkalan, berarti tempat mangkal
4.      Nomina berprefiks – an berarti ‘ukuran / takaran’.
Contoh : literan, artinya ukuran liter
               Tahunan, artinya ukuran tahunan
5.      Nomina berprefiks – an berarti ‘banyak / sudah’.
Contoh : ubanan, artinya banyak uban
               Kutuan, artinya banyak kutu
6.      Nomina berprefiks – an berarti ‘keadaan’.
Contoh : murahan, artinya keadaan murah
7.      Nomina berprefiks – an berarti ‘lebih’.
Contoh : tuaan, artinya lebih tua
               Tinggian, artinya lebih tinggi

Afiksasi : pembentukan ajektiva

1.      Dasar ajektiva berprefiks pe-
Komponen makna ( + sikap batin ) dan memberi makna gramatikal ‘yang memiliki  sifat(dasar)’ misal, pemalu, pemarah,penakut pengecut,pemberani.
2.      Dasar ajektiva berprefiks se-
,sama (dasar) dengan nomina yang mengikutinya’. Misalnya, sepintar A artinya sama pintar A. secantik B artinya sama cantik B.
3.      Dasar ajektiva bersufiks  – an
‘lebih (dasar) pada nomina yang mengikutinya’. Misalnya, pintaran A berarti lebih pintar A. mahalan artinya lebih mahal.
4.      Dasar ajektiva berprefiks ter- 
‘paling (dasar) ‘. Misalnya, tercantik artinya paling cantik.
Tertinggi artinya paling tinggi.
5.      Dasar ajektiva berkonfiks ke – an
‘agak (dasar)’. Misalnya, kehitaman artinya agak hitam.
Kehijauan artinya agak hijau.
6.      Dasar ajektiva berklofiks me – kan
‘Menyebabkan jadi (dasar)’. Misalnya, memalukan artinya menyebabkan malu.
Memiluka artinya menyebabkan pilu.
7.      Dasar ajektiva berklofiks me – i
‘merasa (dasar) pada’. Misalnya, mencintai artinya merasa cinta pada.
Mengasihi artinya merasa kasih pada.


Komposisi
Komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar ( biasanya berupa akar maupun bentuk berimbuhan ) untuk mewadahi suatu “ konsep “ yang belum tertampung dalam sebuah kata. Seperti dalam kehidupan kita banyak sekali, sedangkan jumlah kata terbatas. Oleh karena itu ,proses komposisi ini dalam bahasaindonesia merupakan satu mekanisme yang cukup pentingdalam pembentukan dan pengayaan kosakata. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kita sudah punya kata bukit untuk mengacu pada konsep “ gunung kecil “, tetapi dalam kehidupan nyata kita punya juga “ bukit kecil “, maka konsep “ bukit kecil “ itu kita wadahi dengan gabungan anak bukit.
          Contoh lain lagi, bahasa Indonesia memiliki kata rumah untuk mewadahi “bangunan tempat tinggal “, namun , dalam kehidupan kita ada konsep ‘ bangunan tempat menggadaikan “, maka terbentuklah komposisi rumah gadai, ada konsep “ konsep bangunan tempat mengobati orang sakit”, maka terbentuklah komposisi rumah sakit, dan ada konsep “ bangunan tempat makan “, maka terbentulah komposisi rumah makan. Sebaliknya, konsep mengenai “ bangunan tempat tinggal binatang “,punya satu kata tunggal yaitu kandang.
Komposisi dalam peristilahan
Komposisi Alisjahbana, 1953 menggunakan istilah kata majemuk ( gabungan dua buah kata atau lebih yang memiliki makna baru ). Misal, bentuk kumis kucing dalam arti “ sejenis tanaman yang… “ adalah sebuah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti “ kumis dari seekor kucing “ bukanlah kata majemuk. Begitu juga bentuk tangan panjang dalam arti ‘pencuri’, membanting tulang dalam arti ‘bekerja keras’ dan meja hijau dalam arti ‘pengadilan’ adalah kata majemuk.
Misal, kumis kucing kata majemuk : makna baru
           Kumis kucing bukan kata majemuk : tidak sebenarnya
Fokker (1951) menggunakan istilah kelompok kata, yang dibedakannya atas kelompok longgar dan kelompok erat.
Misal, rumah sakit kelompok longgar : tidak menimbulkan makna baru
          Rumah sakit kelompok erat (kata majemuk): menimbulkan makna baru
C.A.Mees (1957) menggunakan istilah kata majemuk untuk komposisi, yang bermakna idiomatical dan aneksi untuk komposisi yang bukan bermakna idiomatical.
Sepert, lukisan yusuf memiliki makna ‘lukisan milik yusuf’ atau ‘lukisan buatan yusuf’. Jadi C.A.Mees menggunakan istilah kata majemuk untuk komposisiyang bermakna idiomatik, dan aneksi untuk komposisi yang bukan bermakna adiomatik.
Kridalaksana (1989) menggunakan istilah komposisi sama dengan pemajemukan, yaitu prose penggabungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata.
semantik Aspek komposisi
dilihat dari usaha untuk menampung konsep-konsep ini dapat dibedakan adanya lima macam komposisi.
1.   Komposisi sedrajat ( koordinatif ) misalnya, kaya miskin ( kaya dan miskin ), sawah lading ( sawah dan lading ).
2.   Komposisi tidak sedrajat ( subordinatif ) dalam komposisi ini unsur pertama merupakan unsur utama dan unsure kedua merupakan unsure penjelas. Masalnya, sate ayam bermakna ‘sate yang terbuat dari ayam’. Sate Madura bermakna ‘sate yang berasal dari Madura’.
3.   Komposisi yang menghasilkan istilah, yakni yang maknanya sudah pasti,sudah tertentu, meskipun bebas dari konteks kalimatnya, karena sebagai istilah hanya digunakan dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Seperti, tolak peluru, morfem bebas, buku ajar, wali hakim.
4.   Komposisi pembentuk idiom, yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan makna idiomatik. Misalnya, penggabungan meja dengan dasar hijau yang menghasilkan komposisi meja hijau dengan makna ‘pengadilan’. Memeras keringat ‘bekerja keras’, membanting tulang ‘bekerja keras dan bau kencur ‘masih anak-anak.
5.   Komposisi yang menghasilkan nama, yakni yang mengacu pada sebuah maujud dlam dunia nyata. Missal, griya mataram, stasiun gambir,dan selat sunda.
Pengembangan komposisi
Maksud utama pembentukan komposisi adalah untuk mewadahi konsep-konsep yang ada dalam hehidupan nyata tetapi belum ada kosakatanya dalam bentuk tunggal. Pada tahap pertama tentunya komposisi baru berupa penggabungan dua buah dasar, seperti dasar kereta dengan dasar api menjdi komposisikereta api. Namun, kemudian akibat perkembangan teknologi dan budaya kereta api dapat digabungkan lagi dengan dasar ekspres sehingga menjadi kereta api ekspres.bisa ditambah lagi dengan malam, jadi kereta api ekspres malam dapat digabung lagi dengan luar biasa menjadi kereta api ekspres malam luar biasa.
Komposisi nominal
Komposisi nominal adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina. Misalnya kakek nenek dan baju baru pada kedua kalimat berikut :
-      Kakek nenek pergi berlebaran.
-      Mereka memakai baju baru.
Komposisi nomina dapat dibentuk dari dasar :
a.    Nomina + nomina, seperti kakek nenek, meja kayu.
b.    Nomina + verba, seperti meja makan, ruang tunggu.
c.    Nomina + ajektifa, seperti mobil kecil, meja hijau.
d.    Adverbia + nomina, seperti bukan uang, banyak buaya.

Konversi
Konversi lazim juga disebut derivasi zero, transmutasi atau transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain, tanpa mengubah bentuk fisik dari dasar itu.
1.      Petani membawa cangkul ke sawah.
2.      Cangkul dulu tanah itu, baru ditanami.
Misalnya, kata cangkul dalam kalimat (1) adalah berkategori nomina, tetapi pada kalimat (2) adalah berkategori verba.
Kata cangkul disamping memiliki komponen makna(+  bendaan) juga memiliki komponen makna (+ alat) dan (+ tindakan). Komponen makna (+ tindakan) inilah yang menyebabkan kata cangkul itu dalam kalimat imperative menjadi berkategori verba.
Kata-kata yang memiliki makna (+ tindakan) adalah kunci, kikir, gergaji rantai, tutup, kail, pancing, silet, amplas, sikat, pacul, kupas,ketam, kapak, serut, borgol.
Akronimisasi
Akronimisasi adalah proses pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang direalisasikan dalam sebuah kontruksi lebih dari sebuah kata.proses ini menghasilkan sebuah kata yang disebut akronim. Jadi, sebetulnya akronim adalah juga sebuah singkatan, namun yang “diperlakukan” sebagai sebuah kataatau sebuah butir leksikal. Misalnya, kata pilkada yang berasal dari pemilihan kepala daerah, kata jabotabek yang berasal dari Jakarta, bogor, tangerang, bekasi.
Aturan atau kaidah pembentukan akronim
1.      Pengambilan huruf-huruf pertama dari kata-kata yamg membentuk  konsep itu. Misalnya,
-          IKIP                  : institut keguruan dan ilmu pendidikan
-          ABRI                : angkatan bersenjata indonesia
2.      Pengambilan suku kata pertama dari semua kata yang membentuk konsep itu. Misalnya,
-          Balita               : bawah lima tahun
-          Puskesmas       : pusat kesehatan masyarakat           
3.      Pengambilan suku kata pertama ditambah dengan huruf pertama dari suku kata kedua ddari setiap kata yang membentuk konsep itu. Misalnya,
-          Warteg                        : warung tegal
-          Sulsel               : Sulawesi selatan
4.       Pengambilan suku kata yang dominan dari setiap kata yang mewadahi konsep itu. Misalnya,
-          Juklak              : petunjuk pelaksanaan
-          Tilang              : bukti pelanggaran
5.      Pengambilan suku kata tertentu disertai dengan modifikasi yang tampak tidak beraturan ; namun, masih dengan memperhatikan “keindahan” bunyi. Misalnya,
-          Pilkada                        : pilihan kepala daerah
-          Kloter              : kelompok kerja
6.      Pengambilan unsure-unsur kata yang mewadahi konsep itu, tetapi sukar disebutkan keteraturannya termasuk diseni. Misalnya,
-          Sinetron           : sinema elektronik
-          Satpam                        : satuan pengaman

















Daftar pustaka

Chaer, abdul.2008.morfologi bahasa Indonesia : pendekatan poses.jakarta : rineka cipta.
Alisjahbana , S.Takdir.1951.tata bahasa baru nahasa Indonesia.jilid 1 dan 2.djakarta : pustaka rakyat NV.
Dardjowidjojo, soenjono. 1983. Beberapa aspek linguistic bahasa Indonesia. Jakarta : djambatan.
Fokker, A.A. 1951. Inleiding  tot de studie van de indonesische syntaxis. Groningen : JB wolters.
Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kelas kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia.
Simatupang, D.S. 1983. Reduplikasi morfemis bahasa. Jakarta : Djambatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar